Aksi Nyata PMM



Apa sejatinya kurikulum itu?

Kurikulum sering dimaknai sebagai keseluruhan pengalaman belajar peserta didik. Nyatanya lebih dari sekedar itu, kurikulum sangat kompleks dan multidimensi.

Kurikulum dapat dimaknai sebagai titik awal sampai titik akhir pengalaman belajar peserta didik.

Mendesain kurikulum berdasarkan kebutuhan peserta didik. Mulai dari kompetensi apa yang akan dimiliki peserta didik sampai proyeksi masa depan dan bagaimana cara mewujudkan kompetensi tersebut. Dengan begitu sangat jelas bahwa peserta didik menjadi acuan dari kurikulum itu sendiri.

Kurikulum adalah salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan nasional. Kurikulum berperan sebagai pedoman dan acuan dalam pembelajaran. Maka fungsi kurikulum bagi guru adalah untuk memandu dalam proses belajar peserta didik.

Peran dan fungsi kurikulum dapat kita optimalisasi dalam rangka:

  1. mewariskan nilai dan budaya masyarakat yang relevan dengan masa kini;
  2. mengembangkan sesuatu yang dibutuhkan saat ini dan masa depan;
  3. serta menilai dan memilih sesuatu yang relevan sebagai kontrol sosial.

Peserta didik yang beragam suku budaya, bahasa, adat istiadat dan agama harus menjadi pijakan awal dalam pengembangan kurikulum, sehingga kurikulum dapat digunakan sesuai dengan konteks dimana satuan pendidikan itu berada. Kurikulum nasional perlu disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan. Oleh sebab itu, satuan pendidikan harus melakukan adaptasi sesuai dengan konteks dan karakteristik peserta didik.

Mengapa kurikulum perlu diubah?

Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan zamannya.

Kurikulum bersifat dinamis dan terus dikembangkan atau diadaptasi sesuai konteks dan karakteristik murid demi membangun kompetensi sesuai kebutuhan mereka kini dan masa depan.

Mengingat kata-kata Ki Hajar Dewantara, maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Maka, demi menuntun kodrat peserta didik, pembelajaran termasuk kurikulum yang diselenggarakan juga harus terus menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Untuk itu, perlunya peran orang tua, masyarakat dan sekolah dalam mewujudkan kurikulum yang berpihak pada peserta didik. Merekalah yang disebut sebagai tiga pilar pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika merancang kurikulum, menempatkan kebutuhan, pendapat, pengalaman, hasil belajar serta kepentingan murid sebagai rujukan utama karena sejatinya kurikulum dirancang untuk murid.


Agar dapat mewujudkan seluruh kompetensi yang diharapkan dari kurikulum, maka semua pihak harus berkolaborasi maksimal.

Misalnya, guru terus belajar memfasilitas pembelajaran yang sesuai.

Orang tua terus memahami perkembangan dan kebutuhan anaknya.

Begitu juga dengan pemerintah daerah dan pusat, serta semua yang bergerak di bidang pendidikan juga harus terus mengikuti perkembangan kebutuhan murid.

Kurikulum adalah panduan bagi sekolah dalam menyusun rencana pembelajaran dan menentukan materi yang akan diajarkan. Namun, kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan zamannya, dan terus dikembangkan atau diadaptasi sesuai dengan konteks dan karakteristik peserta didik demi membangun kompetensi sesuai dengan kebutuhan mereka kini dan masa depan.

Adaptasi kurikulum dari pemerintah membantu sekolah dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga sekolah perlu melakukan adaptasi terhadap kurikulum pemerintah agar dapat memenuhi kebutuhan dan karakteristik khusus setiap satuan pendidikan.

Dalam mengadaptasi kurikulum, pendekatan diferensiasi dapat digunakan. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran, materi, dan penilaian sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.



Komentar

Postingan Populer